Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Hobby’ Category

Prinsip Kerja Helikopter

Helikopter bisa terbang karena gaya angkat yang dihasilkan oleh aliran udara yang dihasilkan dari bilah-bilah baling-baling rotornya. Baling-baling itu yang mengalirkan aliran udara dari atas ke bawah. Aliran udara tersebut sedemikian deras sehingga mampu mengangkat benda seberat belasan ton. Teorinya sebenarnya cukup sederhana namun prakteknya rumit.

[sunting] Airfoil

Pada dasarnya, prinsip dasar terbang dari pesawat bersayap tetap (fixed wing) dengan helikopter yang dikenal juga pesawat bersayap putar pada dasarnya tetap. Kuncinya ada pada dua kekuatan besar yang bekerja terpadu, menghasilkan gaya angkat dan daya dorong yang besar.

Pada pesawat bersayap tetap Kekuatan pertama dihasilkan oleh aliran udara di permukaan sayapnya yang membentuk sudut datang tertentu dengan flap yakni sayap kecil di belakang sayap yang posisinya ditegakkan. Sehingga aliran udara mengalir deras ke belakang bisa diarahkan balik ke atas. Udara yang mengalir di permukaan sayap bagian bawah menekan permukaan sayap yang relatif datar itu ikut menekan ke atas menimbulkan gaya angkat dan menyebabkan pesawat terangkat ke atas. Paling kurang 15 persen dari seluruh gaya yang dihasilkan, dipergunakan untuk mengangkat badan pesawat ke atas.

Kekuatan besar lainnya adalah gaya dorong yang dihasilkan aliran udara yang ada di permukaan sayap bagian atas yang bentuknya relatif lengkung. Ketika aliran udara yang dihasilkan oleh mesin mengalir ke belakang dan melalui sayap utama maka aliran udara itu terpecah. Aliran udara yang mengalir di atas permukaan sayap bagian atas lebih deras dari aliran udara yang menerpa di permukaan sayap bagian bawah. Tetapi tekanan udara yang mengalir deras di atas permukaan sayap atas, relatif lebih kecil dibanding dengan tekanan udara di permukaan sayap bagian bawah yang justru alirannya kurang deras. Perbedaan tekanan udara ini yang menyebabkan sayap pesawat terangkat ke atas. Untuk membayangkan seberapa besar gaya angkat itu, secara teori menyebutkan bahwa perbedaan tekanan udara sebesar 2.5 ounce per inci persegi dapat menghasilkan gaya angkat 20 pound per kaki persegi ( 1 kaki = 20 cm). Bisa dihitung, kalau luas sayap pesawat 1000 kaki persegi maka gaya angkat yang dihasilkan akan mencapai 10 ton.

Pada helikopter, fungsi sayap digantikan oleh baling-baling yang setiap baling-balingnya meski berukuran lebih kecil dari sayap pesawat biasa, namun ketika diputar, curvanya relatip sama dengan sayap pesawat. Untuk mendapatkan gaya angkat, baling-baling rotor harus diarahkan pada posisi tertentu sehingga dapat membentuk sudut datang yang besar. Prinsipnya sama dengan pesawat bersayap tetap, pada helikopter ada dua gaya besar yang saling memberi pengaruh. Aliran udara yang bergerak ke depan baling-baling menekan baling-baling sehingga bilah baling-baling terdorong balik ke belakang menghasilkan suatu gaya angkat kecil. Tetapi ketika ketika aliran udara bergerak cepat melewati bagian atas dan bawah bilah-bilah baling-baling, tekanan udara yang besar diantara baling-baling otomatis akan mengembang ke seluruh permukaan yang bertekanan lebih rendah, menyebabkan baling-baling terdorong ke atas dan helikopterpun terangkat. Yang perlu diingat, meski bilah-bilah baling-baling itu hanya beberapa lembar, namun dalam keadaan berputar cepat, ia akan membentuk suatu permukaan yang rata dan udara yang menekannya ke atas menimbukan tekanan besar yang akhirnya menghasilkan gaya angkat yang besar pula. Prinsip ini sama dengan fungsi propeler pada pesawat bermesin turboprop dan sama pula dengan “kitiran” mainan anak-anak itu.

Beberapa helikopter yang digunakan dalam perang, seperti Mi-26 Hind misalnya dilengkapi dengan sayap kecil yang disebut canard, fungsi pertamanya untuk meringankan beban rotor utama dan yang kedua untuk meningkatkan laju kecepatan dan memperpanjang jangkauan jelajah. Fungsi lain adalah sebagai gantungan senjata, rudal dan lain-lainnya. Dengan menambahkan sayap pendek ini, maka perbedaan fungsional antara pesawat tetap dengan helikopter menjadi samar. Pesawat bersayap tetap juga ada yang mampu terbang-mendarat secara vertikal (Vertical Take-off Landing/VTOL). Contonya, Harrier dari jenis Sea Harrier atau AV-8 Harrier.

Kelebihan pesawat bersayap tetap, terutama soal terbangnya karena pesawat berjenis ini memiliki platform yang lebar sehingga relatif lebih stabil saat melakukan penerbangan. Soal menerbangkannya, itu persoalan mengatur kemudi guling pada sayap dan stabilizer tegak dan datar yang ada pada ekornya. Tetapi pada Helikopter tidaklah demikian. Ketika bilah-bilah baling-baling rotornya menghasilkan gaya angkat rotornya sendiri sendiri bekerja memindahkan udara di atasnya ke bawah sebanyak banyaknya. Disaat itu berat udara yang dipindahkan mengurangi berat helikopter sehingga helikopter itu terangkat. Dan bila helikopter itu terangkat, berarti terjadi keseimbangan berat antara udara yang dipindahkan dari atas ke bawah dengan bobot helikopternya. Untuk mengoperasikan helikopter itu ada alat kemudi yang biasa disebutcollective pitch dan cyclic pitch masing-masing berfungsi sebagai pengatur gaya angkat dan pendorong helikopter untuk melaju ke depan. Begitu sederhana cara kerjanya, tetapi mentransformasikannya dalam sebuah teknologi sungguh pekerjaan yang sangat rumit.

[sunting] Tail rotor

Begitu pula halnya dengan konfigurasi rotor, bukan hanya sekedar bisa berputar lalu terbang dan mengambang. Sebab setap baling-baling diputar akan selalu menimbulkan tenaga putaran yang disebut dengan istilah umum torque. Untuk menghilangkan atau menangkal tenaga putar yang bisa menyebabkan badan helikopter itu berputar, maka perlu dipasang antitorque.

Antitorque ini dapat berupa tail rotor atau rotor ekor yang dipasang pada ekor pesawat yang juga berfungsi sebagai rudder. Konfigurasi ini dapat dilihat pada helikopter umumnya seperti Bell-412, Bell-205 atau UH-1 Huey, atau NBO-105, dan AS-330 Puma atau AS-335 Super Puma, AH-64 APACHE atau Mi-24 HIND. Selin menggunakan tail rotor, masih ada beberapa desai yang lain. Misalnya yang menggunakan sistem tandem seperti yang digunakan pada helikopter Boeing CH-47 Chinook atau CH-46 Sea Knight. Kedua rotor tersebut yang bersama-sama berukuran besar masing-masing ditempatkan di depan dan di belakang badan helikopter. Keduanya simetris namun memiliki putaran yang berlawanan arah . Maksudnya untuk saling meniadakan efek putaran yang ditimbulkan satu sama lain, intermesh dalam bahasa populernya. Cara lain adalah dengan konfigurasi egg-beater. Konfigurasi rancang bangun seperti ini digunakan pada helikopter Ka-25 Kamov buatan Rusia atau Kaman HH-43 Husky. Kedua baling-baling yang sama besarnya itu diletakkan dalam satu poros, terpisah satu sama lain dimana yang satu diletakkan diatas rotor lainnya. Keduanya berputar berlawanan arah. Maksudnya untuk menghilangkan efek putaran atau torque.

Selain ketiga cara diatas, dibuat juga konfigurasi tanpa rotor ekor. Helikopter ini desebut NOTAR (No Tail Rotor) ini memiliki sistem yang sedikit berbeda dengan sistem yang ada dimana memanfaatkan semburan gas panas dari mesin utama yang disalurkan melalui tabung ekor. Contohnya adalah helikopter MD-902 Explorer.

[sunting] Rotor Aktif atau Tilt Rotor dan Sayap Aktif atau Tilt Wing

Tinggal landas dan mendarat ala helikopter tetapi berkarakter terbang macam pesawat bersayap tetap merupakan konsep yang dianut oleh helikopter jenis ini. Cara paling mudah adalah menggabungkan konsep kerja pesawat helikopter dengan pesawat bersayap tetap dalam satu wujud.

Prinsip kerjanya secara teknis bila rotor utama diarahkan ke atas maka gerakan vertikal yang dilakukan helikoter dapat dilakukan sedangkan saat rotor diarahkan ke depan atau ke belakang (sebagai pursher atau pendorong) maka karakter terbang seperti pesawat tetap dapat diperoleh. Gerakan rotor seperti ini tidak perlu melibatkan sayap.

Sebenarnya pengembangan rotor aktif ini masih diliputi kegamangan, masalahnya adalah sistem tadi bisa saja disebut pesawat bersayap tetap karena memiliki sayap yang berlumayan besar, sekaligus memiliki ekor pesawat yang berkonfigurasi dengan pesawat bersayap tetap biasa. Akhirnya konsep ini disebut dengan konsep hybrid. Contoh helikopter ini adalah V-22 Osprey. Selain konsep rotor aktif, ada pula konsep sayap aktif, dimana yang digerakkan bukanlah rotor seperti pada rotor aktif melainkan sayap pesawatnya. Sementara mesin tetap pada kedudukannya. Contoh helikopter ini adalah TW-68 yang dirancang oleh Ishida Corporation, Jepang, Rancangan ini disebut-sebut sebut sebagai memiliki rancangan yang lebih ringkas dibandingkan dengan rotor aktif hanya sayangnya keberlanjutannya tidak begitu terdengar.

[sunting] Kursi Lontar pada Helikopter

Dibandingkan pada pesawat biasa khususnya pesawat tempur, pesawat helikopter umumnya tidak dilengkapi dengan kursi lontar. Hal ini disebabkan karena masalah menghadapi rotor helikopter saat meluncurkan kursi lontar sekaligus umumnya helikopter terbang lebih rendah sehingga lebih rentan. Namun demikian pada helikopter Rusia, Kamov Ka-50 Hokum yang menggunakan kursi lontar yang dirancang khusus seperti Zvesda K-37-800. Langkah kerjanya adalah ketika kursi lontar diaktifkan, maka rotor diledakkan dan lepas dari kedudukannya, kemudian kedua sisi atas kaca kokpit membuka dan roket penarik aktif yang menarik pilot dan kirsinya keluar dari badan heli. Meski dirasa rumit, Helikopter masa depan akan dilengkapi dengan kursi lontar

[sunting] Penemuan Helikopter

Sebenarnya, perjalanan helikopter menjadi bentuk yang dikenal pada saat ini memakan kurun waktu yang cukup panjang. Dalam perjalanannya, juga melibatkan perkembangan teknologi dan juga para penemu serta pengembang helikoter.

Helikopter pertama yang menerbangkan manusia adalah Helikopter Breguet-Richet, tahun 1907. Heli ini terbang di Douai, Perancis pada 29 September 1907. Helikopter ini masih memperoleh bantuan dari empat orang yang memegangi keempat kakinya. Upaya ini tidak memperoleh catatan baik sebagai helikopter pertama yang terbang bebas. Walaupun demikian, helikopter ini membuktikan keberhasilan teori terbang vertikal yang saat itu masih dianggap sebagai teori. Ini merupakan mesin pertama yang bisa terbang dengan sendirinya membawa seorang pilot secara vertikal sebagai akibat daya angkat sayap putarnya. Heli ini menggunakan mesin Antoinette berkekuatan 50 hp.

Terbang heli sesungguhnya dilakukan oleh Paul Cornu menggunakan heli bermesin ganda Antoinette 24 hp di Lisieux, Perancis pada 13 November 1907. Penerbangan berlangsung 20 detik hingga ketinggian 0,3 Meter. Sedangkan Helikopter berjenis Gyroplane pertama diraih oleh C4 Autogiro buatan Juan de la Cierva. Autogiro terbang pertama pada 9 Januari 1923]]. Rahasia sukses pada pengadopsian sistem flapping hinges joint the blades to the rotor head. Sementara helikopter yang sukses terbang pertama dilakukan oleh jenis Fock Wulf FW-61 berotor ganda yang didesain oleh Professor Heinrich Focke pada tahun 1933-1934. Helikopter ini melakukan terbang perdananya pada 26 Juni 1936 dan ditenagai oleh mesin Siemens-Halske Sh 14A bertenaga 160 hp. Heli ini diterbangkan oleh Ewald Rohlfs. Heli ini mencatat rekor terbang sejauh 122,35 km dan lama terbang satu jam 20 menit 49 detik. Pada waktu lain ia terbang hingga ketinggian 3427 meter dan rekor kecepatan 122 km/jam.

Iklan

Read Full Post »

Mengenal Pesawat Model Pemula

Seiring dengan maraknya dunia Aeromodelling di dunia hobby tentunya hal ini juga mulai tergambar di Indonesia. Namun masih sedikit pula pemahaman tentang dunia Aeromodelling. Secara perlahan-lahan saya akan mencoba mengupas sedikit-demi sedikit untuk memberikan pengetahuan tentang Pesawat model yang tentunya masih banyak yang belum tahu tentang Hobby yang satu ini.

Model pesawat terbang atau model non-terbang yang  biasanya menggunakan bahan seperti polystyrene, kayu balsa , busa dan fiberglass. Designnya yang simpel seperti model pesawat gilder (untuk pemula) , tahap selanjutnya untuk bisa lebih akurasi dalam pembuatanya  adalah belajar model skala . Desain berkisar dari yang sederhana pesawat glider , untuk akurat model skala , beberapa di antaranya bisa sangat besar.

Model dapat dibangun baik sebagai model non-terbang statis, atau sebagai model terbang. . Konstruksi teknik untuk dua hal tersebut biasanya sangat berbeda.

Jadi pada prinsipnya ada 2 :

–  Model statis

– Model terbang

Model Statis

 Yuk, mengenal sedikit-demi sedikit untuk model statsis. Model ini  dimaksudkan tidak untuk diterbangkan . Penggunaanya dengan  model skala dibangun dengan menggunakan plastik, kayu, logam atau kertas.  Beberapa model statis skala untuk digunakan dalam terowongan angin , dimana data yang diperoleh digunakan untuk membantu desain pesawat skala penuh.

Kolektor bisa membeli model yang telah dibangun dan dicat, model yang memerlukan konstruksi, dicat dan lem, atau model yang telah dicat namun perlu dibentuk lebih kreatif. Model Statis ini kini membutuhkan konstruksi yang bagus dan menjadi semakin populer.

Contoh beberapa pesawat model statis yang biasnya sebagai sarana promosi penerbangan dan juga hobby model kitt

Model Pesawat Terbang

Model ini biasanya apa yang dimaksud dengan istilah Aeromodelling.  Model pesawat terbang sebagian besar dapat ditempatkan dalam salah satu dari tiga kelompok:

  •  (F / F) model pesawat terbang tanpa metode kontrol eksternal dari tanah. 
  •  Control line (C / L) model kabel menggunakan pesawat (biasanya dua) terkemuka dari sayap ke pilot.  Sebuah variasi dari sistem ini adalah  (RTP) model.
  • Radio-controlled aircraft  / RC. Istilahnya Radio Pemancar yakni memiliki pemancar yang dioperasikan oleh pilot di tanah, mengirimkan sinyal ke penerima di pesawat itu.

 Beberapa pesawat model terbang menyerupai versi skala yang dibuat sebenarnya  seperti pesawat sungguhan, sementara yang lain dibangun dengan tidak berniat tampak seperti pesawat sungguhan.  Ada juga model burung dan dinosaurus terbang he..he lucukan..

model  pesawat terbang terbuat dari kayu balsa atau yang biasa disebut pesawat glider

Pesawat model yang mirip dengan aslinya Hercules C130 J buatan negeri paman sam

Helikopter dengan bantuan Remote Control (RC) bertenaga baterai

Sekian dulu, sampai nanti mengelupas lebih jauh tentang pesawat model..semoga kita semakin paham

Read Full Post »

Grung…grung…, Suara dari sebuah  pesawat heli yang sedang bersiap-siap di tengah landasan pacu bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta . Suaranya mirip dengan suara yang keluar dari mesin pemotong rumput.

Baling-balingnya semakin kencang berputar sementara debu-debu berhamburan seolah menyambut hingar-bingarnya Heliku ini. Sekitar lima menit heli tersebut memanaskan mesin, heli mulai mengapung.

Segera kumainkan jari-jemari menuju kokpit pesawat, tanganku mulai menggerak-gerakan tangan pada tombol-tombol layaknya penerbang profesional. Naik dan turun, berputar, menukik atau terbalik. Heli terbang sangat atraktif. Sementara penonton bertepuk tangan riuh dipinggir bandara. Sesekali aku bermanuver layaknya pilot Heli Apache Amerika sesekali menanjka dengan ketinggian miring 45 derajat lalu turun 90 derajat , manuver yang menantang gravitasi bumi , huff sejenak dadaku berguncang memacu adrenalinku untuk terus menjaga keseimbangan pesawat. Sesekali aku lepaskan flare berwarna hijau layaknya heli tempur.

Aku lihat dibawah sana riuh tepuk tangan penonton menyaksikan manuver ini. Aku lihat ada Petinggi-petinggi tentara Republik ini turut menyaksikannya , sesekali kamera televisi turut menyorot . Waduh silau men…Jangan dishoot dulu pikirku belum dandan nih..he..he.  Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi dunia penerbangan , ya hari lahir TNI ke-65 rupanya. Puluhan orang yang tergabung dalam Atraksi Aerobatik HUT TNI ke -65 nampak asyik dengan manuver pesawatlnya. Berbagi jenis pesawat tempur ditampilkan. F-16 fightin falcon, Su-30 MKU,Su-27 SKU, Hawk M3, F-5 Tiger,  helikopter hingga pesawat -pesawat latih macam KT-1 wongbee, mereka terbangkan di Lanud Halim Perdana Kusumah Jakarta.

Lain di Halim Perdanakusumah lain dengan tempatku, rupanya aku asyik mencoba menerbangkan pesawat layaknya mereka betulan hi..hi cukup dibelakang pekarangan rumah. Tak perlu biaya mahal pula aku beli pesawat..cukup ke warnet klik http://www.mainanpesawat.com lalu pesan deh model yang dimau tak perlu jutaan dollar atau jutaan rupiah hanya perlu transfer ratusan ribu saja sudah bisa terbangkan heli layaknya Pilot Sejati.

Sekali lagi selamat HUT TNI ke-65 dan hari jadi www.mainanpesawat.com he..he

Alhamdulillah, walaupun nyari gampangnya  dengan nginduk ke juale, akhirnya terinspirasi dari hobby aeromodelling dari semenjak SMA hingga sekarang saya bisa membagi  senyum dengan orang lain (tapi beli tentunya yah..hah jualan juga). Kalau dulu Hobby Aeromodelling dipandang hobby yang sangat mahal ,selain karena masih relatif mahal tersebut, kurangnya publikasi serta tidak adanya toko yang menyediakan kebutuhan hobi ini, menjadi kendala yang utama.

Tapi tak perlu khawatir, mudah-mudahan dengan hadirnya Heli RC versi charge battery ini, untuk mengembangkan dan memperkenalkan hobi aeromodelilng kepada masyarakat akan semakin terjangkau dalam waktu dekat.

Sedikitnya peminat aeromodelling karena memang perlu biaya yang lumayan untuk memulainya, itu dulu.  Tapi sekarang kita semua bisa memiliki pesawatnya dengan harga terjangkau. Meski tidak buatan jepang atau eropa…

 “Ditengah penatnya pekerjaan, hobi ini bisa mencairkan pikiran,” ya nggak..ya nggak..

Read Full Post »

BANDUNG, KOMPAS.com — Alexander Supeli gagal melakukan salah satu atraksi rolling back. Gerakan ini adalah salah satu atraksi berbahaya dalam akrobat pesawat terbang.

Gerakan rolling back adalah gerakan memutar pesawat di udara, tetapi dengan ketinggian pesawat hanya sekitar 300 kaki dari landasan. Dibutuhkan keahlian dan jam terbang tinggi bagi pilot dalam melakukan atraksi ini.

Alex Supeli menampilkan pertunjukan itu bersama pilot lain, Esther. Memulai dengan posisi pesawat berjenis Cessna itu dengan terbalik, Alex yang memiliki pengalaman terbang sebanyak 2.000 jam ini gagal mengembalikan pesawat pada posisi normal.

Read Full Post »

Cara Kerja Pesawat Model

Cara Terbang Pesawat Model
Yohanes Surya (UPH)  

 

Mobil remote enggak sendirian. Sekarang sudah ada pesawat model yang bisa terbang lincah di udara dengan dikendalikan remote control. Gimana caranya terbang, sih? 

Pesawat terbang model yang bisa dikendalikan dengan remote control atau radio control (alat kendali jarak jauh) atau disingkat R/C Airplane (Remote- Controlled Airplane) sebenarnya sudah ada sejak tahun 1937. Dua orang yang pertama kali membuat pesawat model ini adalah Walter dan Bill Good. 

Ada beberapa macam gaya yang bekerja pada benda-benda yang terbang di udara. Gaya-gaya aerodinamika ini meliputi gaya angkat (lift), gaya dorong (thrust), gaya berat (weight), dan gaya hambat udara (drag). Gaya-gaya inilah yang mempengaruhi profil terbang semua benda-benda di udara, mulai dari burung yang bisa terbang mulus secara alami sampai dengan pesawat terbang yang paling besar sekalipun. Jadi, gaya-gaya yang sama (Gambar 1) bekerja juga pada pesawat model yang ukurannya mini ini. 

Gaya hambat udara

Gaya hambat udara (drag) merupakan gaya yang disebabkan oleh molekul-molekul dan partikel-partikel di udara. Gaya ini dialami oleh benda yang bergerak di udara. Pada benda yang diam, gaya hambat udara nol. Ketika benda mulai bergerak, gaya hambat udara ini mulai muncul, yang arahnya berlawanan dengan arah gerak, bersifat menghambat gerakan (itu sebabnya gaya ini disebut gaya hambat udara). Semakin cepat benda bergerak, semakin besar gaya hambat udara ini. Agar benda bisa terus bergerak maju saat terbang, diperlukan gaya yang bisa mengatasi hambatan udara tersebut, yaitu gaya dorong (thrust) yang dihasilkan oleh mesin. Supaya kita tidak perlu menghasilkan thrust yang terlalu besar (bisa-bisa jadi tidak ekonomis), kita harus mencari cara untuk mengurangi drag. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan desain yang streamline (ramping). 

 

Supaya bisa terbang, kita perlu gaya yang bisa mengatasi gaya berat akibat tarikan gravitasi bumi. Gaya ke atas (lift) ini harus bisa melawan tarikan gravitasi bumi sehingga benda bisa terangkat dan mempertahankan posisinya di angkasa. Di sinilah tantangannya! Kita harus melawan gravitasi! Bagaimana caranya? Ini saatnya memanfaatkan bantuan dari fisikawan-fisikawan legendaris: Isaac Newton, Bernoulli, dan Coanda. Ketiganya bekerja sama menjawab tantangan ini!

Isaac Newton yang terkenal dengan ketiga persamaan geraknya menyumbangkan hukum III Newton tentang Aksi-Reaksi (Gambar 2). Sayap pesawat merupakan bagian terpenting dalam menghasilkan lift. Pada Gambar 2 kita melihat aliran udara di atas dan di bawah sayap pesawat.

Partikel-partikel udara menabrak bagian bawah sayap pesawat. Partikel-partikel yang menabrak ini lalu dipantulkan ke bawah (ke arah tanah). Udara yang menghujani tanah ini merupakan gaya AKSI. Nah, ini baru aksi yang disebabkan proses yang terjadi di bagian bawah sayap.

Di bagian atas sayap, ada proses lain yang juga menghasilkan aksi. Di sinilah Bernoulli dan Coanda “bekerja sama”. Sewaktu udara akan mengalir di bagian atas sayap, tekanannya sebesar P1. Ketika udara melewati bagian lengkung pesawat, tekanan udara di daerah itu turun menjadi P2.

Menurut Coanda, udara yang melewati permukaan lengkung akan mengalir sepanjang permukaan itu (dikenal sebagai Efek Coanda). Ini dibuktikan ketika kita meletakkan lilin menyala di depan sebuah botol. Ketika lilin ditiup dari belakang botol, aneh, ternyata lilin di depan botol itu akan mati. Coanda bilang, hal ini disebabkan udara yang kita tiup mengalir mengikuti permukaan lengkung botol lalu meniup api lilin hingga mati. Udara yang melewati bagian atas sayap ini mirip udara yang bergerak sepanjang botol. Udara ini akan mengalir sepanjang permukaan atas sayap hingga mencapai ujung bawah sayap (Gambar 2).

Teknik terbang Di ujung bawah sayap itu, partikel-partikel udara bergerombol dan bertambah terus sampai akhirnya kelebihan berat dan berjatuhan (downwash). Siraman udara atau downwash ini juga merupakan komponen gaya AKSI. Tanah yang menerima gaya aksi ini pasti langsung memberikan gaya REAKSI yang besarnya sama dengan gaya aksi tetapi berlawanan arah. Karena gaya aksinya menuju tanah (ke arah bawah), berarti gaya reaksinya ke arah atas. Gaya reaksi ini memberikan gaya angkat (lift) yang bisa mengangkat pesawat dan mengalahkan gaya berat akibat tarikan gravitasi bumi. Sumber gaya angkat (lift) yang lain adalah perubahan tekanan udara di P2.Untuk bermanuver di udara, pesawat harus memperhatikan semua gaya aerodinamika tersebut. Jika ingin terbang pada kecepatan dan ketinggian konstan, maka resultan gaya-gaya tersebut harus nol. Ini berarti gaya dorong (B) harus sama besar dengan gaya hambat udara (D), dan gaya angkat ke atas (A) harus sama besar dengan gaya berat benda (C). Kalau kita ingin menambah kecepatan, kita harus menambah gaya dorong sehingga B $> D. Kalau hambatan dari udara lebih besar dari gaya dorong yang dihasilkan mesin (B $< D), maka kecepatan pasti berkurang. Jika kita ingin menambah ketinggian, kita hanya perlu menambah gaya angkat supaya A $> C, sebaliknya jika kita ingin mengurangi ketinggian, kita hanya perlu mengurangi gaya angkat (A $< C). Kadang-kadang pesawat terbang bahkan mengurangi gaya berat dengan cara membuang sebagian bahan bakarnya jika akan melakukan pendaratan darurat. Konsepnya sangat sederhana, kan?Nah, itu konsep yang “mengangkat” pesawat dari tanah dan menjaganya tetap stabil di udara. Pada pesawat model, besarnya gaya dorong bisa diatur dengan menggunakan remote control atau radio control. Alat kendali jarak jauh pada pesawat model ini merupakan alat pemancar sinyal radio (transmitter).Pemancar dilengkapi baterai sebagai sumber tenaga untuk mengirimkan sinyal. Baterai ini bisa juga diisi ulang seperti baterai telepon seluler. Alat pemancar ini berfungsi untuk mengirimkan sinyal radio pada frekuensi tertentu, yang berisi instruksi untuk menggerakkan mesin/kendali pesawat.Sewaktu kita menggerakkan tombol-tombol pada alat kendali itu, terbentuklah rangkaian listrik yang tertutup. Rangkaian listrik ini akan mengirimkan sinyal berupa gelombang radio. Frekuensi gelombang radio yang biasa digunakan untuk pesawat-pesawat model ini berkisar pada 72 MHz (1 MHz = 106 Hz). Sinyal radio yang berupa pulsa listrik ini sudah memiliki kode-kode unik untuk setiap perintah. Kodenya berbeda-beda untuk perintah terbang, maju, berputar, dan perintah-perintah lainnya. Sinyal radio ini kemudian diterima oleh alat penerima sinyal (receiver) yang diselipkan di pesawat model. Kode yang merupakan perintah ini dikirimkan ke sirkuit (Integrated Circuit atau IC) yang ada di dalam pesawat model. Kodenya kemudian dikenali dan dijalankan. Hasilnya, terbanglah pesawatku!!!Sumber : Kompas (9 Januari 2004)  

Read Full Post »

Teori Dasar pesawat terbang

 

 

Pengenalan dasar-dasar pesawat terbang RC

 
Seorang beginner / pemula harus memahami konsep dasar terbang. Sebenarnya teori-teori tentang fisika penerbangan banyak buku yang membahasnya. Namun sering terjadi antara buku yang satu dengan buku yang lain terjadi konfik dan adu argument sendiri tentang bagaimana sebenarnya pesawat bisa terbang. Tapi dari semua buku yang ada, saya menemukan satu prinsipal yang bisa di terima tentang bagaimana daya angkat pada pesawat bisa terjadi, yaitu dengan terjadinya tekanan udara dibagian bawah pesawat yang lebih besar daripada tekanan yang berada di atas sayap.

Lift Diagram menunjukan beberapa bagian bagian dasar dari sebuah sayap. basic basic ini juga berlaku pada pesawat remote control

Airfoil :

ada 4 gaya utama yang terjadi pada waktu pesawat dalam kondisi terbang : thrust, lift, drag dan weight.
thrust terjadi karena kombinasi mesin dengan propller yang menyebabkan pesawat bergerak maju.
drag merupakan gaya hambatan yang terjadi pada waktu pesawat bergerak maju.
weight merupakan gaya berat yang terjadi karena pengaruh grafitasi
untuk menjaga agar kecepatan tetap konstan, maka antar gaya thrust dan drag harus sama.
untuk menjaga ketinggian pesawat gaya lift dan weight harus sama

Lift bertambah tergantung oleh bertambahnya kepadatan udara yang melintas dibawah sayap,atau karena pertambahan angle of attack selama aliran udara yang melewati sayap tetap mulus. Pesawat di katakan terbang dengan baik apabila antara gaya angkat (lift) dan berat sama (weight)

pada pesawat, selain gaya gaya yang terjadi di atas, terdapat pula 3 gaya tambahan yang terjadi akibat perubahan gari pergerakan sistem kendali pesawat. the yaw atau vertical axis terjadi karena rudder, the pitch atau lateral axis terjadi karena elevator, dan the roll atau longitudinal axis terjadi karena ailerons. gaya yang terbentuk baik secara individual ataupun gabungan, akan menyebabkan perpindahan atau perubahan arah pesawat.

ketika rudder bergerak ke kanan, maka pesawat akan bergerak berputar ke kanan.
ketika elevator bergerak naik, maka pesawat akan bergerak menambah ketinggian
Aileron bergerak berkebalikan, ketika aileron kiri bergerak naik, maka aileron kanan bergerak turun, dan pesawat akan berbesok ke kiri.Bentuk sayap ketika di lihat dari samping. biasanya berbentuk seperti tetes air
angle of attack : Sudut pada sayap untuk membelah udara pada saat terbang, semakin sudut bertambah akan semakin mengapung tapi akan menghasilkan hambatan pada laju pesawat sesuai dengan sudut yang digunakan.
Chord Line : garis antara the leading edge dan the trailing edge pada airfoil
Direction of Flight : arah terbang sayap pada waktu di udara.
Leading Edge : bagian ujung muka pada sayap
Trailing Edge: bagian ujung belakang pada sayap

Read Full Post »